Salahsatu hasil terjemahan bersambung yang terawal adalah Sherlock Holmes : Kekoeasaan Allah dikarang dalam basa Inggeris oleh A. Conan Doyle. Saduran Melayu ceritera tersohor Holmes A Study in Scarlet ini mengisi sejumlah besar ruang
AStudy in Scarlet by Arthur Conan Doyle introduces the characters Sherlock Holmes and Dr John Watson, and is the first of four novels and 56 short stories in the original Holmes canon. It was first published in 1887 in Beeton’s Christmas Annual, and released as a separate book the following July (1888).The novel is divided into two segments of seven chapters each.
SherlockHolmes - A Study in Scarlet by Sir Arthur Conan Doyle Table of Contents Part I Chapter I - Mr. Sherlock Holmes Chapter II - The Science of Deduction Chapter III - The Lauriston Gardens Mystery Chapter IV - What John Rance Had To Tell Chapter V - Our Advertisement Brings a Visitor Chapter VI - Tobias Gregson Shows What He Can Do
FebruaryMarch 1922. " The Problem of Thor Bridge " is a Sherlock Holmes short story by Arthur Conan Doyle collected in The Case-Book of Sherlock Holmes (1927). It was first published in 1922 in The Strand Magazine (UK) and Hearst's International (US).
Olehkarena itu dalam makalah ini akan dibahas tentang analisis unsur ekstrinsik novel “Analisis Unsur Ekstrinsik Novel Sherlock Holmes : Skandal Asmara Berujung Maut.”. Makalah ini bukanlah karya yangsempurna karena masih memiliki banyak kekurangan,baik dalam hal isi maupun sistematika dan teknik penulisannya.
2 Penelusuran Benang Merah (A Study In Scarlet) Penelusuran Benang Merah merupakan buku pertama dalam seri Sherlock Holmes dan mengisahkan perkenalan dr. Watson dengan sang detektif. Sang dokter yang ketika itu belum mengetahui profesi Holmes, pada awalnya dibuat bingung dengan keeksentrikan pria itu serta kemampuannya yang unik.
BukuSherlock Holmes - A Study in Scarlet dikarang oleh dan diterbitkan pada 1-Oct-2009 dengan harga Malaysia Barat RM 14.00/Malaysia Timur RM 16.00 (2010). Ia diterbitkan oleh PTS Publications & Distributors Sdn Bhd dalam bahasa Melayu dengan nombor ISBN13 -6. Ringkasan sunting sunting sumber Pautan luar [ sunting | sunting sumber]
TheAdventures of Sherlock Holmes THE BOSCOMBE VALLEY MYSTERY . We were seated at breakfast one morning, my wife and I, when the maid brought in a telegram. whom you may recollect in connection with 'A Study in Scarlet', to work out the case in his interest. Lestrade, being rather puzzled, has referred the case to me, and hence it is that
DownloadKomik Sherlock Holmes B. Indonesia [Reupload] Komik Sherlock Holmes Edisi 1 - A Study in Scarlet. Bahasa: Indonesia, File: PDF. DOWNLOAD. Sumber Asli Ringkasan Padat oleh : Michael Gray , Tahun: 2008, Baha Hubungi Saya. Name Email * Message * manganebook ©.
Novel 1. A Study in Scarlet (diterbitkan 1887, Beeton's Christmas Annual) 2. The Sign of the Four (diterbitkan 1890, Cerita Pendek: 1. The Adventures of Sherlock Holmes (berisi kasus-kasus yang diterbitkan 1891–1892, dalam The Strand) a. A Scandal in Bohemia b. The Red-Headed League c. A Case of Identity d. The Boscombe Valley Mystery e
7B84. 14 episodes A Study in Scarlet is an 1887 detective novel by British writer Arthur Conan Doyle. introducing his new characters, "consulting detective" Sherlock Holmes and his friend and chronicler, Dr. John Watson, who later became two of the most famous characters in book's title derives from a speech given by Sherlock Holmes to Doctor Watson on the nature of his work, in which he describes the story's murder investigation as his "study in scarlet" "There's the scarlet thread of murder running through the colourless skein of life, and our duty is to unravel it, and isolate it, and expose every inch of it. A Study in Scarlet is an 1887 detective novel by British writer Arthur Conan Doyle. introducing his new characters, "consulting detective" Sherlock Holmes and his friend and chronicler, Dr. John Watson, who later became two of the most famous characters in book's title derives from a speech given by Sherlock Holmes to Doctor Watson on the nature of his work, in which he describes the story's murder investigation as his "study in scarlet" "There's the scarlet thread of murder running through the colourless skein of life, and our duty is to unravel it, and isolate it, and expose every inch of it. Top Podcasts In Arts You Might Also Like
Urutan Novel Sherlock Holmes – Nama Sherlock Holmes sudah tidak asing lagi di telinga para penggemar dunia misteri. Pasalnya, karakter detektif ciptaan Sir Arthur Conan Doyle ini sangat terkenal akan kehebatannya dalam memecahkan misteri-misteri yang ada. Karakter fiksi Sherlock Holmes lahir karena Sir Arthur Conan Doyle terinspirasi oleh atasannya ketika dia bekerja di Royal Infirmary of Edinburgh. Ia terinspirasi oleh atasannya yang bernama Dr. Joseph Bell. Sir Arthur Conan Doyle, klik button lihat buku untuk karyanya Melejitnya nama Sherlock Holmes juga menginspirasi banyak orang, salah satunya pembuat komik Detective Conan. Dalam komiknya, Detective Conan ini sangat menggemari Sherlock Holmes. Kisah tentang Sherlock Holmes ini terdiri dari 56 cerita pendek dan empat novel. Kanon Sherlock Holmes, istilah Kanon ini dipakai untuk membedakan karya asli Conan Doyle dengan beberapa karya yang juga menggunakan karakter Sherlock Holmes. Kisah petualangan Sherlock Holmes pertama kali diluncurkan pada tahun 1887 dengan judul A Study in Scarlet. Cerita ini juga diterbitkan dalam majalah tahunan Beeton’s Christmas Annual pada tahun yang sama. Sherlock Holmes tidak sendirian dalam memecahkan kasus-kasus yang ada, ia ditemani oleh sahabat karibnya yang bernama Dr. Watson. Latar cerita dalam novel-novel dan cerita pendek kisah Sherlock Holmes berada dalam rentang tahun 1880 sampai 1914. Untuk kamu yang ingin membaca kisah petualangan Sherlock Holmes dan Dr. Watson kamu bisa melihat tulisan di bawah ini. Urutan Novel Sherlock Holmes1. A Study in Scarlet – Penelusuran Benang Merah 18872. The Sign of the Four – Empat Pemburu Harta 18903. The Hound of The Baskervilles – Anjing Setan 1901 – 19024. The Valley of Fear – Lembah Ketakutan 1914 – 1915 1. A Study in Scarlet – Penelusuran Benang Merah 1887 Penelusuran Benang Merah A Study in Scarlet Ini adalah novel pertama kisah Sherlock Holmes. Pada seri pertama ini lah Sherlock bertemu dengan Dr. Watson. Pada awalnya, Dr. Watson belum mengetahui apa profesi yang digeluti oleh Holmes. Dalam pandangannya Dr. Watson, Sherlock Holmes sangat eksentrik dan memiliki kemampuan yang unik. Bagaimana tidak, Sherlock Holmes bisa menebak karakter seseorang dan keadaannya hanya dalam satu kali penglihatan saja. Pada 1881, Dr. Watson baru saja kembali dari London setelah bertugas di Perang Anglo – Afghanistan. Pada saat itu dia mencari tempat tinggal, dan kebetulan temannya mengatakan bahwa Sherlock Holmes sedang mencari teman untuk berbagi sewa di flat 221B Baker Street. Setelah mereka bertemu, tiba-tiba ada sebuah telegram yang masuk. Telegram itu berisikan tentang kasus pembunuhan. Tanpa pikir panjang, Dr. Watson ikut bersama Sherlock Holmes ke TKP, sebuah rumah kosong di daerah Brixton Road. Ketika sampai di rumah itu, terdapat tulisan di dinding, RACHE’ istilah dari Jerman yang memiliki arti balas dendam dengan warna merah. Di rumah itu terdapat seorang korban bernama Enoch Drebber. Saat ingin memindahkan tubuh Drebber, polisi menemukan sebuah cincin kawin emas milik perempuan. Sherlock menyimpulkan bahwa Drebber meninggal karena diracun. Akhirnya Sherlock menyebarkan ke surat kabar tentang cincin itu, ia berharap ia bisa menarik si pembunuh kepadanya. Setelah itu, ada seorang wanita tua yang mengunjungi sherlock dan mengklaim bahwa cincin kawin tersebut adalah milik putrinya. Hal ini tentunya membuat Sherlock Holmes curiga, apakah perempuan tersebut seorang kaki tangan si pembunuh, atau mungkin saja dia pembunuh sebenarnya yang sedang menyamar. Sehari setelahnya, Inspektur Gregson menemui Sherlock Holmes dan Dr. Watson untuk memberitahu mereka bahwa dia telah menangkap seseorang sebagai tersangka. Inspektur Gregson pergi ke sebuah asrama di mana korban pernah tinggal sebelum pembunuhan terjadi. Dari situ diketahui bahwa Drebber adalah seorang pemabuk dan berusaha mencium seorang perempuan bernama Alice, sehingga ia diusir dari asrama tersebut. Bagaimanapun, Drebber berusaha untuk menangkap Alice dan cekcok dengan kakak laki-lakinya. Kakak laki-laki Alice lah yang dicurigai oleh Inspektur Gregson sebagai salah satu tersangka karena memiliki motif dendam atas hal yang menimpa adiknya. Di lain hari, Sherlock ingin menaiki taksi dan meminta bantuan si supir untuk membawa barang-barangnya ke bagasi. Siapa sangka, supir taksi itu justru diborgol oleh Sherlock dan mengumumkan bahwa ia adalah pembunuh dari Drebber. 2. The Sign of the Four – Empat Pemburu Harta 1890 Empat Pemburu Harta The Sign of Four Pada buku keduanya ini, Conan Doyle menceritakan plot yang lebih kompleks dibanding sebelumnya. Novel ini juga menyajikan kebiasaan konsumsi narkoba SHerlock Holmes dan memanusiakannya dengan cara yang belum pernah dilakukan dalam novel sebelumnya. Saat itu, Dr. Watson memperkenalkan calon istrinya kepada Holmes, yang bernama Mary Morstan. Mary pada saat itu menceritakan kepada Watson dan Holmes tentang ayahnya. Ayahnya pernah mengirimnya telegram setelah kembali dari India. Ayahnya meminta Mary untuk menemuinya di Hotel Langham, London. Namun sayangnya, ketika tiba di hotel Mary diberitahu bahwa ayahnya pergi dan belum kembali ke hotel sejak semalam. Mary pun kebingungan dan menghubungi salah satu teman ayahnya yang bernama Mayor John Sholto. Holmes langsung mengerjakan kasus tersebut dan menemukan fakta bahwa Mayor Sholto sudah meninggal enam tahun lalu. Di saat yang bersamaan,Mary menerima mutiara-mutiara dari pengirim anonimus. Mary pun memberikan petunjuk lain kepada Holmes yaitu sebuah peta yang ditemukan di meja ayahnya. DI peta tersebut bertuliskan nama-nama asing seperti Jonathan Small, Abdullah Khan, Mahomet Singh dan Dost Akbar. Holmes, Watson dan Mary akhirnya memutuskan untuk bertemu anak Mayor Sholto, Thaddeus Sholto. Setelah ditelusuri, ternyata dia adalah pengirim mutiara anonim itu. Namun, sang anak mengakui bahwa ayahnya melihat ayah Mary pada malam dia meninggal. Pada malam menjelang kematian, Mayor Sholto mengakui bahwa dia telah membunuh Morstan dan memberitahukan letak harta karun yang disembunyikan. Saudaranya Thaddeus, Bartholomew Sholto telah menemukan harta karun tersebut. Mary dan thaddeus akhirnya memutuskan untuk menemuinya. Namun siapa sangka, ternyata Bartholomew ditemukan tak bernyawa dan harta karun tersebut hilang. Setelah diselidiki, Sherlock menyimpulkan bahwa ada dua orang yang terlibat, yaitu Jonathan Small serta anak buahnya. Mereka semua pun mencoba untuk menangkap Jonathan Small. Pada misi penangkapan tersebut, Holmes hampir tertembak dengan panah beracun. Jonathan Small berhasil ditangkap, namun sayangnya harta karun tersebut kosong. Dia pun mengaku bahwa dia telah membuang harta karun tersebut. Jonathan Small benar mengakui bahwa dia mencuri harta karun itu dari Bartholomew. Awalnya ia memang dijanjikan oleh Mayor Sholto harta karun tersebut, namun naasnya ia dibohongi oleh Mayor Sholto. Akhirnya ia memutuskan untuk balas dendam dan merebut harta karun tersebut. Padahal sebelumnya ia tidak mau membunuh Bartholomew, ia hanya ingin merebut harta karun yang seharusnya menjadi miliknya. Akhirnya, Mary pun tidak mendapatkan apa-apa dari kejadian tersebut. Namun, kisah cintanya dengan Dr. Watson berbuah manis sehingga Dr. Watson memutuskan untuk menikahi Mary. 3. The Hound of The Baskervilles – Anjing Setan 1901 – 1902 Anjing Setan The Hound of the Baskervilles The Hound of the Baskervilles adalah seri ketiga dari keempat novel Sir Arthur Conan Doyle. Novel ini menceritakan sebuah kisah tentang percobaan pembunuhan. Kisah ini terinspirasi dari legenda anjing buas yang sangat kejam dan menakutkan. Sherlock Holmes dan Dr. Watson menyelidiki kasus ini bersamaan. Pada buku ketiganya ini menjadikan cerita Sherlock Holmes yang paling terkenal yang pernah ditulis oleh Conan Doyle. Bahkan, novel ini mendapat penghargaan sebagai novel yang paling disukai di Inggris. Novel ini menceritakan kisah tentang Dr. James Mortimer yang meminta Sherlock holmes untuk menyelidiki kasus temannya yang tewa di gang rumahnya, Sir Charles Baskerville. Kematian temannya ini dikaitkan dengan serangan jantung. Namun, menurut Dr. James, wajah temannya itu menunjukkan sebuah ketakutan. Selain itu juga ditemukan jejak kaki anjing raksasa di dekat mayat temannya itu. Hal ini tentu sangat mengejutkan, karena menurut legenda, ada kutukan yang masih berlaku di keluarga Baskerville sejak masa Perang Saudara di Inggris. Anjing setan besar yang menjadi legenda itu diduga menjadi kematian para ahli waris Baskerville. Sir Charles pun juga percaya tentang legenda tersebut, begitu juma Dr. James Mortimer. Dia pun juga mengkhawatirkan keturunan Baskerville berikutnya yaitu Sir Henry Baskerville. Meskipun Sherlock Holmes tidak terlalu percaya dengan kutukan omong kosong itu, ia tetap menemui Sir Henry Baskerville. Dia adalah seorang pemuda tampan nan periang, dan sangat skeptis tentang legenda Baskerville itu. Dia pun mengaku bahwa dia juga pernah menerima catatan dari anonim yang memperingatkan dia untuk menjauh dari rawa-rawa. Sherlock Holmes pun meminta Watson untuk melindungi Sir Henry guna mencari petunjuk tentang siapa yang mengancam hidupnya. Sir Henry pergi bersama Watson ke Baskerville Hall, rumah tua yang besar dan dikelilingi oleh taman yang luas. Rumah tua tersebut dirawat oleh pelayan dan istrinya. Di antara perkebunan yang luas itu juga terdapat pasir hisap yang bisa merebut nyawa hewan maupun manusia. Bahkan pernah ada berita seorang narapidana yang melarikan diri dan bersembunyi di area perkebunan tersebut. Sir Henry dan Watson tidak bisa tidur saat malam hari. Mereka hanya bisa bersantai pada siang hari dan menjelajahi lingkungan sekitar serta bertemu dengan penduduk di sana. Watson terus berusaha mencari petunjuk tentang siapa orang yang telah mengancam Sir Henry Baskerville. Ia juga tidak lupa selalu mengirimkan laporan kepada Holmes. Ada beberapa penduduk yang sangat menonjol di mata Watson. Ada Jack Stapleton, seorang laki-laki yang sangat ramah dan selalu ingin tahu terhadap semua hal. Selain itu ada juga Beryl Stapleton, perempuan yang sangat cantik dan ia pernah berusaha memberi tahu Watson untuk memperingatkan Sir Henry agar berwaspada dari bahaya. Tanpa diketahui orang-orang, termasuk Dr. Watson, Sherlock Holmes telah bersembunyi di rawa situ sepanjang waktu dan sudah memecahkan misteri tersebut. Ia memberitahu bahwa anjing itu memang ada, dan ternyata adalah milik keluarga Stapleton. Anjing itu digunakan untuk memikat Sir Charles dan sekaligus menakutinya. Ternyata, Stapleton melakukan hal tersebut karena mereka sebetulnya juga keturunan Baskerville, dan mereka pun ingin mengklaim warisan dan hak mereka. 4. The Valley of Fear – Lembah Ketakutan 1914 – 1915 Lembah Ketakutan The Valley of Fear The Valley of Fear adalah novel terakhir yang ditulis oleh Sir Arthur Conan Doyle. Cerita di dalam novel ini pertama kali diterbitkan di sebuah majalah bernama Strand Magazine mulai dari September 1914 sampai Mei 1915. Tidak seperti novel-novel sebelumnya, pada novel keempatnya ini Conan Doyle menuliskan dua bagian dengan hati-hati yang dipenuhi dengan ketakutan dan teror. Novel ini juga mengangkat tema utama yaitu masalah etika dan aktivitas teroris oleh serikat pekerja Amerika. Novel yang diadaptasi ke dalam Film dan serial TV ini menceritakan kisah Sherlock Holmes yang menerima sebuah pesan berisi sandi dari Fred Porlock, seorang agen dari Profesor Moriarty. Namun, Porlock berkhianat kepada Profesor Moriarty dan dia takut bahwa pengkhianatan itu diketahui oleh Moriarty. Dia akhirnya menceritakan kepada Holmes perihal hal ini. Dari pesan sandi itu Holmes menyimpulkan bahwa sandi buku yang digunakan untuk enkripsi adalah buku biasa yang besar,berisikan 534 halaman. Holmes pun mencoba buku edisi terbaru Whitaker’s Almanack, namun gagal. Dengan memecahkan sandi tersebut, holmes berhasil menguraikan pesan yang berisikan peringatan rencana jahat terhadap seorang pria yang tinggal di Birlstone House bernama Douglas. Tidak berselang lama setelah Holmes berhasil memecahkan sandi tersebut, Inspektur MacDonald mendatangi kediaman Homes. Ia memberitahukan bahwa Douglas telah dibunuh. Holmes memberitahu bahwa kejahtan ini ada keterlibatannya dengan Moriart. Namun Inspektur MacDonald tidak mempercayai bahwa orang berpendidikan dan terhormat seperti Moriarty melakukan tindakan keji seperti itu. Akhirnya, Inspektur bersama Holmes dan Watson pergi ke Birlstone House, untuk menyelidiki kejahatan tersebut. Douglas ditemukan sudah terbaring di ruang tengah dengan sebuah senapan gergaji yang terletak di atas dadanya. Dia telah ditembak oleh seseorang dari jarak dekat, kepalanya hancur berkeping-keping. Sersan Wilson, petugas otoritas di daerah sana akhirnya menyelidiki kasus tersebut. Ia menemukan ada noda darah dengan sol sepatu di dekat jendela. Ia berspekulasi bahwa si pembunuh memasuki rumah melewati jembatan gantung sebelum diangkat pada pukul 6 sore. Setelah itu si pembunuh memasuki lewat jendela dan langsung menembak Douglas. Selain itu juga ditemukan kartu di samping tubuh Douglas dengan inisial dan nomor 341. Holmes dan Dr. Watson sampai di lokasi pembunuhan dan mendiskusikan kasus tersebut dan setuju bahwa itu bukanlah kasus bunuh diri. Douglas diketahui merupakan seorang buron dan pindah ke pedesaan Inggris. Ia menikah di Inggris, namun istri pertamanya telah meninggal karena penyakit tipes. Selain itu diketahui juga oleh temannya Douglas, Barker, bahwa Douglas pernah menyebutkan sesuatu tentang The Valley of Fear’. Holmes dan Watson pun memutuskan untuk mencari penginapan guna melanjutkan penyelidikan besok. Sesampai di penginapan, Holmes memberitahu Watson bahwa Barker dan istri Douglas sudah berbohong. Selain itu, Holmes juga mengetahui bahwa pengurus rumah itu mendengar suara seperti pintu yang dibanting. Holmes pun berasumsi bahwa itu adalah suara tembakan dari senapan. Awalnya mereka mengira orang Amerika yang menjadi pembunuh Douglas, namun mereka tidak menemukan bukti-bukti yang kuat. Akhirnya, Holmes pun menulis surat kepada Barker untuk mencari sesuatu di sekitar parit. Holmes, Watson dan Inspektur Mcdonald melihat Barker di parit. Akhirnya Barker pun disergap oleh mereka. Namun siapa sangka, Douglas yang dikiranya terbunuh itu muncul dalam keadaan baik-baik saja. Dia akhirnya menjelaskan kepada Watson dan Holmes tentang The Valley of Fear’ yang menjelaskan tentang mengapa dia takut akan kehidupannya. Itulah sebagian novel Sherlock Holmes yang melegenda sampai saat ini. Kisah-kisahnya selalu dinanti bagi para pecinta novel detektif. Kamu bisa mendapatkan buku novel Sherlock Holmes di dan Gramedia Digital. Gramedia selalu menjadi SahabatTanpaBatas bagi kamu agar bisa bersama-sama melewati pandemi dengan suguhan buku berkualitas. How to Think like Sherlock Holmes Setelah membaca artikel di atas seputar novel-novel Sherlock Holmes, tentunya kalian ingin kan secerdas Sherlock Holmes dalam menyelesaikan masalah? Buku ini akan membahas mengenai semua metode atau teknik yang dilakukan oleh Sherlock Holmes dalam menyelesaikan kasus atau masalah yang dihadapi. Dengan begitu, kita mampu belajar dan mempelajari teknik tersebut dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Buku yang berjudul How to Think Like Sherlock Holmes ini akan mengajak kita berpikir untuk mengambil kesimpulan dan menemukan kebenaran layaknya Sherlock Holmes. Temukan buku dan novel Sherlock Holmes lainnya karangan Sir Arthur Conan Doyle di sini.
PETUALANGAN PERTAMA SHERLOCK HOLMES “PENELUSURAN BENANG MERAH” IDENTITAS BUKU Judul Asli Sherlock Holmes, A Study In Scarlet Judul Terjemahan Penelusuran Benang Merah Pengarang Sir Arthur Conan Doyle Alih Bahasa B. Sendra Tanuwidjaja Penerbit Gramedia Pustaka Utama Cetakan I, November 2001 Tebal Halaman 216 Halaman SINOPSIS BUKU Sir Arthur Ignatius Conan Doyle adalah pengarang cerita fiksi terkenal berkebangsaan Inggris. Salah satu karangannya yang paling terkenal adalah seri petualangan Sherlock Holmes. Pada tahun 1886, ia menciptakan tokoh Sherlock Holmes yang diilhami dari Dr. Joseph Bell, salah satu dosennya. Cerita pertama yang berjudul A Study In Scarlet diterbitkan pada tahun 1887. Inilah buku petualangan pertama Sherlock Holmes. Pada buku ini, diceritakan bahwa inilah pertemuan pertama John Watson, seorang mantan dokter militer yang baru pulang dari Afganistan dengan Sherlock Holmes, seorang detektif konsultan. Stamford mengajak Sherlock Holmes dan John Watson untuk berkenalan, karena John Watson sedang mencari apartemen yang murah di Inggris dan Sherlock Holmes bersedia berbagi sewa kamar di sebuah apartemen di Baker Street yang dimiliki oleh Nyonya Hudson. John Watson, yang cara hidupnya kaku, intelek dan tipikal khas orang Inggris yang “normal” seolah tercipta untuk melengkapi sosok Sherlock Holmes yang luar biasa ganjil, “nyentrik” namun mempunyai kemampuan deduksi yang luar biasa. Seperti apa yang dikatakan Watson, “Kau orang pertama yang membuat ilmu deduksi begitu gamblang seperti ilmu eksakta” halaman 60 Bagi Watson, mengenal Holmes yang misterius membuatnya merasa hidupnya banyak mengalami kejadian yang menarik untuk diikuti. Banyak ilmu yang dimiliki Holmes, namun ada beberapa yang tidak ia kuasai pula. Seperti sastra, filsafat, perpolitikan bahkan mengenai teori Copernicus. “Bahwa ada manusia beradab di abad ke 19 ini yang tidak menyadari bahwa bumi ini mengitari matahari, bagiku merupakan fakta yang begitu luar biasa hingga aku hampir-hampir tidak mempercayainya.” Halaman 24 Petualangan pertama bermula ketika Sherlock Holmes mendapat surat tentang adanya kasus pembunuhan di rumah kosong di Brixton Road dari Inspektur Gregson dari Scotland Yard. Sherlock dan Watson lalu pergi ke Brixton Road untuk penyelidikan langsung di TKP. Korban bernama Enoch J. Drebber dari Cheveland. Dia datang bersama Mr. Joseph Stangerson namun ia tak ada di TKP. Namun tak ada tanda kekerasan pada korban. Di dinding dituliskan RACHE dalam darah. Inspektur Gregson dan Inspektur Lestrade yakin bahwa kata RACHE tersebut dituliskan korban. Korban sebenarnya ingin menulis RACHEL. Tapi, ia tak sanggup menulisnya karena ajalnya sudah menjemputnya. Tapi setelah Holmes melakukan penyelidikan, ia memulai deduksinya secara gamblang gambaran si pelaku. Ia juga mengatakan bahwa tidak perlu mencari Rachel, karena RACHE sendiri dalam bahasa Jerman adalah BALAS DENDAM. Holmes dan Watson lalu meninggalkan TKP. Mereka menuju rumah John Rance, polisi yang bertugas pada saat kejadian. Polisi itu mengatakan bahwa ada seseorang yang mabuk ditempat kejadian. Holmes sendiri meyakini bahwa orang mabuk itulah pelakunya. Keesokan harinya, Holmes telah memasang iklan di surat kabar, bahwa ia telah menemukan sebuah cincin yang ditemukannya di TKP. Seseorang datang menemuinya di Baker Street dan meminta cincin itu kembali. Ketika orang itu telah mendapatkannya, Holmes mengikuti orang tersebut sampai orang tersebut menghilang. Esoknya, kasus bertambah rumit karena Stangerson, orang yang dicurigai Lestrade sebagai pelaku telah terbunuh. Terdapat pula tulisan RACHE dalam darah. Holmes telah menduganya. Disana, telah ditemukan pil yang satu berisi racun dan satunya lagi tidak. Dia telah melakukan pencarian ke seluruh kota dengan bantuan anak-anak jalanan di London. Mereka datang ke 221B Baker Street dan memanggil sebuah kereta bersama kusirnya. Tentu saja Gregson dan Lestrade heran dan mengira bahwa Holmes akan kabur ketika ia dicegat akan deduksinya. Tetapi, ia sendiri yang mengundang kusir itu dan menyatakan bahwa ia pelakunya. Luar biasa, bagaimana alih-alih mengejar si pelaku, namun Holmes membuat pelaku mendatanginya sendiri. Ketika pembunuhnya tertangkap, maka dimulailah bagian cerita kedua tentang masa lalu sang pembunuh dan bagaimana ia bisa melakukan pembunuhan tersebut. Pembaca dibawa mundur ke puluhan tahun sebelumnya, ke sebuah peristiwa bersejarah yang melibatkan ajaran Mormon, penyelamatan di padang gurun, kisah cinta terlarang, hingga kematian tragis. Tepatnya, kematian yang menjadi latar belakang pembunuhan yang diselidiki Sherlock Holmes 20 tahun kemudian. Setelah kasus selesai, Dr. Watson yang punya sejarah dibidang militer merasa tertarik dengan kasus yang ditangani Holmes dan memutuskan untuk mendokumentasikan semuanya di catatan miliknya. Tanpa disadari, Sherlock Holmes dan Dr. Watson telah menjadi sahabat karib selama proses penyelidikan kasus tersebut. Buku Study in Scarlet memiliki 2 sudut pandang, satu diceritakan oleh Watson dan satunya lagi diceritakan oleh orang ketiga. Kedua cerita ini akhirnya bertemu diakhir, menyajikan sebuah kasus pelik namun canggih yang akhirnya bisa diungkap oleh Sherlock Holmes. Pengenalan karakter 2 tokoh ini dibingkai dengan cara yang asyik sebari mengenalkan cara deduksi yang sering digunakan Holmes untuk memecahkan kasus-kasusnya. Misalnya, Holmes bisa memprediksi tinggi orang dengan melihat ketinggian tulisan yang ditulis di dinding TKP. “Kalau orang menulis di dinding, maka secara naluriah dia menulis setinggi matanya sendiri. Nah, tulisan di dinding itu berada sekitar enam kaki dari dari lantai.” Halaman 58 “Jarang – jarang ada orang sampai berdarah hidungnya karena emosi, kecuali ia berdarah tinggi, jadi kuduga pelakunya barangkali orang bertubuh tegap dan berwajah merah. Terbukti bahwa dugaan ku benar.” Halaman 206 Membaca serial Sherlock Holmes ibarat candu bagi pembacanya. Tak heran jika detektif nyentrik rekaan Arthur Conan Doyle ini segera merebut perhatian dunia. Fakta bahwa tahun 1887 buku ini diterbitkan semakin membuat nama Arhtur Conan Doyle semakin terkenal karena dapat membuat kasus dengan rapi dan menulis kisah detektif yang memukau serta sudut pandangnya yang berbeda dari orang kebanyakan merupakan contoh dari otak “out the box”. Kemampuannya berdeduksi serta kelihaiannya dalam melihat apa yang luput dari penglihatan orang lain telah mengajarkan kepada pembaca tentang bagaimana menjadi detektif yang tidak mudah tertipu dengan bukti-bukti palsu. Dari Holmes pula kita belajar banyak tentang bagaimana berpikir secara kreatif, bagaimana kita berfokus pada satu hal yang benar-benar kita butuhkan alih-alih mencoba menguasai hal-hal yang kurang kita butuhkan, dan bagaimana menjadi diri sendiri dengan segala keunikan yang kita punya. Cerita pada novel Sherlock Holmes memang sedikit sulit dipahami, jika kita tidak bersungguh-sungguh membacanya. Terkadang ada beberapa adegan dalam novel yang harus kita pikirkan dua kali agar bisa dimengerti. Tetapi, itulah gaya khas tulisan Arthur Conan Doyle. Bahasa terjemahannya cukup sederhana dan mudah dipahami. Novel ini sangat cocok untuk pembaca yang suka sekali dengan teka-teki, karena banyak sekali kejadian yang harus memutar otak dan tidak terduga akhirnya. Bagi pembaca yang menyukai cerita detektif atau misteri, novel ini sangat direkomendasikan untuk dibaca.